About the author

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.

Saat karya-karyanya mulai dikenal dan diyakini membuat banyak perempuan memberontak pada sistem yang menindas, nama Nawal tercantum dalam daftar kematian yang bahkan dipublikasikan di media. 


Erlin Fadhylah

Banyak yang menganggap kecil peran sastra dan karya tulis sebagai media perjuangan kaum minoritas. Padahal justru lewat sastra dan tulisan, potret kehidupan para minoritas yang paling nyata bersuara lantang dan menggema, termasuk Nawal el Saadawi dengan karya-karya besarnya yang mengangkat diskriminasi pada perempuan hingga ke akar-akarnya.

Duka menggelayut dan udara berkabut pada Senin, 21 Maret 2021. Para perempuan, entah mengenal baik sosoknya atau tidak, telah kehilangan salah seorang pejuangnya. Nawal, perempuan berani yang lebih suka disebut penulis alih-alih aktivis, telah kembali membuktikan pada apa yang tak bisa ia lawan, yaitu Sang Pemilik Usia. Semua bisa ia lawan, kecuali usia, demikian salah satu kalimatnya. Pada usia 89 tahun, ia  membuktikannya.

Nawal telah memulai, kini, tongkat estafet perjuangan telah diteruskan pada kita, para perempuan masa kini. Siapkah kita bersuara lantang dan menjadi berani seperti Nawal el Saadawi dalam melawan patriarki? Tentu tak mudah, tapi bukan tak mungkin. Demi mengemban amanah perjuangan yang telah disuarakan Nawal, mari kita kenali sosoknya lebih dekat serta perubahan yang telah ia berikan bagi wanita lewat buah pikirnya yang mendunia.

Pengalaman Berbuah Karya

Nawal el Saadawi lahir di Mesir pada 27 Oktober 1931. Hingga akhir hayatnya, ia telah menerbitkan lima puluh tulisan yang telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa, baik fiksi maupun nonfiksi. Dalam sebuah wawancara bersama Qantara.de, Nawal mengonfirmasi faktor keberhasilan karya-karyanya. Menurut Nawal, karyanya bukan sekadar pembelajaran yang didapatkan dari buku, tetapi berasal dari pengalaman. Karya fiksi dan tulisannya bercerita tentang kenyataan sehingga ia tak heran karya tersebut digemari, tuturnya. 

Kisah nyata yang hadir dalam karyanya bukan hanya berasal dari pengamatan pada lingkungan sekitar, tetapi juga dari pengalaman pribadinya sebagai perempuan. Misalnya, novel “Perempuan di Titik Nol” yang mengisahkan proses mutilasi genital alat kelamin perempuan  pada tokoh Firdaus kecil. Hal tersebut juga dialami oleh Nawal el Saadawi pada usia enam tahun.

Nawal mengingat pengalaman perempuan sebagai ironi, saat ia menangis menjalani proses pemotongan klitoris perempuan, ibunya hanya tersenyum melihatnya menjalani prosedur tersebut. Meski telah dilarang di berbagai negara termasuk Indonesia dan Mesir tempat asal Nawal, proses mutilasi genital pada perempuan ini masih dijalankan di berbagai negara oleh keluarga penganut paham konservatif. 

Secara naluriah, pembaca memang akan menyukai karya yang dekat dengan dirinya, karya yang mampu memotret realita pahit dan tragis yang tak mampu disuarakan seorang diri. Itulah mengapa karya Nawal terasa mewakili suara perempuan  yang terjebak dalam hal-hal yang dianggap normal oleh budaya. 

“Perempuan di Titik Nol”: Potret Perjuangan Perempuan yang Dibayar dengan Nyawa

Di antara puluhan karyanya yang mendunia, mungkin “Perempuan di Titik Nol” adalah salah satu novel yang paling masyhur termasuk di Indonesia. Novel yang dituturkan dari sudut pandang Firdaus, seorang pelacur yang akan dihukum mati karena membunuh seorang germo, ini berkisah tentang kehidupan perempuan sebagai warga kelas dua di Mesir. Perempuan  tak memiliki harga selain dari tubuh dan fungsinya di rumah tangga.

Salah satu buku karya Nawal El Saadawi

“Jika salah satu anak perempuan mati, ayah akan menyantap makan malamnya, ibu akan membasuh kakinya, dan kemudian ia akan pergi tidur. Seperti itu ia lakukan setiap malam. Apabila yang mati itu seorang anak laki-laki, ia akan memukul ibu kemudian makan malam dan merebahkan diri untuk tidur.” (Nawal El Saadawi: 26)

Ruang gerak perempuan dibatasi, penganiayaan dan pelecehan merupakan hal lumrah yang dialami dan dilihat oleh Firdaus sejak kecil. Meski cerdas, tokoh Firdaus diremehkan hanya karena ingin melanjutkan pendidikan. Ia malah dinikahkan oleh pria tua dengan banyak bisul berbau dan berair di wajahnya. Seolah belum cukup, pria tua tersebut bahkan begitu pelit untuk sekadar memberinya makan yang pantas dan melakukan kekerasan kepada dirinya. 

Segala luka yang dialami Firdaus dituturkan Nawal dengan lugas dan berani. Hingga Firdaus sampai pada keputusannya menjadi pelacur, pelacur yang bebas tanpa diatur oleh lelaki.

“Saya tahu bahwa profesi saya diciptakan oleh seorang laki-laki. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang istri yang diperbudak.” (Nawal El Saadawi: 133)

Nawal berhasil menyedot pembaca untuk melihat kisah dari sudut pandang perempuan yang berani memilih mati. Ia tak meminta pengampunan atas tindakan pembunuhan yang sebetulnya dilakukan untuk membela diri saat nyawanya terancam. Apalagi, novel ini terinspirasi dari sosok perempuan nyata yang ditemui Nawal saat bertugas sebagai psikiater di penjara.

Kisah Firdaus yang dituliskan Nawal telah banyak dijadikan rujukan dan objek penelitian yang membahas patriarki dan feminisme. Tindak diskriminasi serta pelecehan yang dialami Firdaus tak sekadar kisah fiksi apalagi dongeng belaka, tetapi memang dialami oleh perempuan di berbagai belahan dunia. Banyak perempuan  yang menjadi korban pelecehan tetapi memilih untuk diam.

Tak sedikit perempuan cerdas berpendidikan dipandang sebelah mata karena hanya mengurus rumah tangga dan tak berpenghasilan. Perempuan yang bekerja keras sampai malam, malah dicap nakal dan gagal mengurus rumah dan urusan domestiknya. Semua hal tersebut ada dan nyata. Lewat novel “Perempuan di Titik Nol”, Nawal membawa kisah Firdaus menembus zaman. Bahkan hingga kini, kisahnya masih relevan untuk dituturkan dan menjadi bahan pembelajaran.

Nawal el Saadawi dan Jalan Terjal Perjuangan, Dilengserkan hingga Mendekam di Tahanan

Perjuangan yang dilakukan Nawal bukannya tanpa hambatan, malahan ia mendapat tentangan dari banyak pihak yang ingin membungkam suaranya. Saat ia menjabat sebagai Direktur Kementerian Kesehatan Mesir, ia dilengserkan akibat tulisannya mengenai seksualitas perempuan yang berjudul “Women and Sex”. Buku tersebut dilarang edar karena menyentil praktik-praktik budaya yang melanggar hak-hak seksual perempuan,  seperti mutilasi genital serta tes keperawanan pada calon mempelai perempuan  yang justru merusak selaput dara.

Mendapat ancaman pembunuhan bukan hal asing dalam kehidupan Nawal. Saat karya-karyanya mulai dikenal dan diyakini membuat banyak perempuan  memberontak pada sistem yang merugikan, nama Nawal tercantum dalam daftar kematian yang bahkan dipublikasikan di media. 

Tak berhenti sampai di situ, ia bahkan sempat merasakan dinginnya kehidupan di balik jeruji besi selama tiga bulan atas aksinya melawan pemerintahan Presiden Anwar Sadat di Mesir. Ia menjadi salah satu dari 1.500 aktivis yang ditangkap saat itu. Nawal menuturkan bahwa ia sebetulnya bisa saja dipenjara di era pemerintahan presiden manapun yang menganut sistem kapitalis, religius, dan patriarki, apapun landasan agamanya. Pengalamannya di penjara yang awalnya menakutkan berhasil ia taklukkan. Menurut Nawal, hanya keberanian yang ia miliki dan ia yakini hingga ia mampu bertahan. 

“The braver you are, the more nobody can touch you.” (Raphael, 2018)

Perjuangan Belum Selesai

Berpulangnya Nawal tidak berarti perjuangan perempuan telah selesai. Nawal telah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk berjuang dan kini tongkat estafet perjuangan tersebut telah beralih kepada kita, perempuan-perempuan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Nawal berpesan, jangan takut untuk bersuara. Kita butuh bersuara lebih lantang di tengah dunia yang kian tuli melihat ketidakadilan. 

Banyak dari kita diberkahi hak-hak sebagai perempuan  merdeka yang menyebabkan kita merasa tak perlu lagi bersuara atau berjuang, tetapi menurut Nawal perjuangan itulah yang akan menguatkan kita. Jika kita mau membuka mata dan sejenak mengamati sekitar, kita akan menyadari bahwa diskriminasi gender itu masih ada dan nyata. Berjuanglah dengan berani meski dunia tak menyukai para pemberani, tutur Nawal.

Terakhir, Nawal juga berpesan agar kita para perempuan tak segan untuk menjadi diri sendiri. Ia menjelaskan betapa memprihatinkannya kondisi perempuan yang mesti bersembunyi di balik riasan atau atribut keperempuanan  lain yang dianggap penting untuk menunjukkan sisi feminim. Padahal, hal tersebut merupakan penindasan. Perempuan selalu diajarkan untuk tampil seperti keinginan laki-laki, masyarakat, bahkan agama.

“Women are pushed to be just bodies – either to be veiled under religion, or to be veiled by makeup. They are taught that they shouldn’t face the world with their real face – they have to hide their face somehow.” (Raphael, 2018)

Nawal yakin bahwa kepercayaan dirilah yang membuat perempuan menjadi cantik. Keberanian  serta sikap yang merupakan pengejawantahan dari percaya diri dan kecerdasan merupakan bukti kecantikan perempuan sesungguhnya. Sibukkan dirimu agar tak ada lagi waktu untuk membandingkan diri atau iri dengan perempuan lain. 

Kini, sehari setelah kepergiannya, mari kita terima tongkat estafet perjuangan tersebut dan meneruskannya dengan menjadi perempuan terbaik versi diri kita. Jadilah perempuan percaya diri dan cerdas yang mampu menyuarakan hak-hak kita dan melawan penindasan yang terjadi pada diri maupun lingkungan kita. Kita perempuan dan kita berani.

Referensi:

Cowell, A. (2021, March 21). Nawal El Saadawi, Advocate for Women in the Arab World, Dies at 89. The New York Times. https://www.nytimes.com/2021/03/21/obituaries/nawal-el-saadawi-dead.html

Fariborz, A. (2014). Interview with Nawal El Saadawi: “They don’t want any really courageous people!” – Qantara.de. Qantara.de – Dialogue with the Islamic World. https://en.qantara.de/content/interview-with-nawal-el-saadawi-they-dont-want-any-really-courageous-people

Raphael, S. (2018, June 7). “Women Are Pushed To Be Just Bodies – Veiled Under Religion Or Veiled By Makeup”: Nawal El Saadawi On Feminism Today. Refinery29. https://www.refinery29.com/en-gb/2018/06/200895/nawal-el-saadawi-interview

Sadawi, N. (2010). Perempuan di Titik Nol. Yayasan Pustaka Obor Inodnesia.


Erlin Fadhylah

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us