Kisah Dokter Perempuan di Pedalaman Papua, Ketika Uang Tidak Berarti Apapun

Published by Alimah Fauzan on

Hidup terlalu membosankan bila hanya dilihat dari satu sisi, dunia terlalu luas untuk dibiarkan tidak dijelajahi.

( dr. Sandra Suryadana, Community Leader Komunitas Perempuan Berkisah (@perempuanberkisah) Khusus Tangerang Selatan-Jakarta, sekaligus Founder @doktertanpastigma )

Bagi orang-orang tertentu, perpindah-pindah kerja dari satu daerah ke daerah lainnya terasa merepotkan dan melelahkan. Apalagi di beragam daerah, suasana, dan lingkungan yang berbeda. Namun bagi dr. Sandra Suryadana, dunia kerjanya yang selalu berpindah bukan sekadar kebetulan. Sandra, begitu sapaannya, memang sengaja memilih mengabdikan dirinya sebagai dokter di sejumlah tempat terpencil.

Tidak jarang, orang-orang di sekitarnya mempertanyakan, kenapa begitu suka kerja berpindah-pindah? kenapa tidak bisa betah berada di satu tempat dan membangun karir. Jika sudah begitu, Sandra akan dengan bangga menjawab “Kenapa tidak?”. 

“Kenapa kita harus membatasi diri dengan pekerjaan yang itu-itu saja, dengan lingkungan yang dia lagi dia lagi? Kenapa tidak mau memanfaatkan masa muda yang penuh energi dengan mengeksplorasi kehidupan? Aku menjadi aku yang sekarang karena perantauanku,” tandas Sandra. 

Pada Kamis (19/03/2020) di mana hari penuh ketegangan akibat meningkatnya jumlah pasien positif Corona, Sandra kembali mengingat hari-harinya yang begitu menantang sekaligus membahagiakan batinnya. Pengabdiannya di sejumlah daerah selalu menyisakan pembelajaran penting baginya, termasuk ketika dia bekerja di pedalaman Papua. 

Menjadi Dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT)

Sandra merupakan dokter lulusan dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga. Tahun 2010, Sandra saat itu masih harus mengikuti program internship (magang) selama 1 tahun. 

“Angkatanku adalah angkatan pertama yang menjalani program ini. Aku menjalani program ini di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur selama 1 tahun. Aku belajar cukup banyak hal di sini tentang bagaimana berinteraksi dengan masyarakat setempat, beradaptasi dengan dunia kerja sebagai lulusan baru,” papar Sandra. 

Di Probolinggo, lanjut Sandra, dia juga belajar bagaimana bekerja sama secara cantik dengan rekan-rekan satu tempat kerja, dan bagaimana hidup secara sederhana di kota kecil dengan penghasilan yang sangat sedikit. 

Sandra saat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sayangnya, Sandra kehilangan dokumentasi foto-fotonya saat di Papua.

Tahun 2012, akhirnya Sandra benar-benar lulus sebagai dokter. Saat itu aku fokus ingin menjadi dokter pegawai tidak tetap (PTT). Termasuk keinginannya mencari pengalaman bekerja di luar pulau, di tempat terpencil. 

“Aku tidak melamar pekerjaan lain, hanya menunggu pembukaan lowongan dokter PTT. Aku memilih di Kalimantan Barat (Kalbar) saat itu, tetapi tidak diterima. Aku cukup kecewa waktu itu. Apalagi aku tidak mempunyai rencana cadangan. Akhirnya aku menyebar CV ke banyak tempat termasuk ke Dinas Kesehatan Teluk Bintuni Papua Barat. Singkat cerita 2 bulan kemudian, aku dihubungi oleh Dinkes Teluk Bintuni dan dinyatakan diterima,” ungkap Sandra. 

Pembelajaran Sebagai Dokter Perempuan di Papua dan Daerah Lainnya

Akhirnya keinginan Sandra terwujud untuk mengabdi sebagai dokter di daerah terpencil. Maka, berangkatlah dia ke Teluk Bintuni Papua Barat. Saat itu, Sandra berangkat bersama 3 (tiga) orang teman lainnya. 

“Banyak pengalaman di Tanah Papua, namun yang jelas Papua mengubah hidupku. Aku belajar menjadi orang sederhana, tidak sombong, tidak melihat orang lain dari tampilannya. Aku belajar memahami perbedaan, menghargai keberagaman dan belajar menerima semua itu sebagai keindahan. Aku belajar bagaimana berinteraksi dengan orang yang benar-benar berbeda dari diriku. Aku belajar tentang arti sesungguhnya dari kehidupan, menghargai hal-hal kecil, belajar puas dengan apa yang penting,” papar Sandra pelahan.  

Di pedalaman Papua, Sandra juga turut merasakan betapa pentingnya air bersih kalau bukan dari tempat yang airnya kotor bahkan jarang ada. Sandra belajar bagaimana menghargai langit cerah di siang hari dan kerlip bintang di malam hari dari tempat bersih tanpa polusi.

Papua juga membawanya mampu menikmati kicau burung di pagi hari. Begitu pun suara anak-anak riang gembira bermain, serta nikmatnya duduk sore-sore main gitar bernyanyi bersama tetangga. Semuanya itu adalah saat di mana dia tak selalu disibukkan dengan suara-suara TV, handphone, laptop dan suara-suara listrik lainnya.

Tinggal di Beragam Tempat Semakin Menyadari Betapa Rumitnya Negeri ini

Di Papua, Sandra mengaku belajar banyak hal yang mungkin tak bisa dia dapatkan dari tempat yang menyediakan banyak fasilitas, banyak orang, dan semua lengkap tersedia. 

“Justru aku belajar itu semua di tempat yang listriknya dibatasi, yang tidak ada sinyal, yang memaksaku hidup mengandalkan air hujan, makan dari hasil kebun. Tempat di mana uangmu tidak berarti apa-apa,” ungkapnya. 

Satu tahun lebih, Sandra tinggal di Papua. Hingga akhirnya harus melanjutkan pengabdiannya di ke Waingapu, Sumba Timur, NTT. Kali Ini Dia bekerja di RS swasta. Dunia yang berbeda lagi, dengan budaya orang yang berbeda lagi. Bukan membuatnya bingung atau benci, justru menambah pembelajarannya pada perbedaan, menambah khasanah akan betapa rumitnya negeri ini. Di sana, dia bekerja selama 1 tahun di sini. 

Sandra bernama rekan-rekannya

Keindahan tanah Papua dan tanah Sumba, rupanya membuatnya semakin ketagihan menjelajahi banyak daerah di Indonesia. Setelah dari sana, Sandra pindah bekerja di daerah tambang di Kalimantan Timur (Kaltim). Sungguh pengalaman yang berharga. Suasana kerja yang sangat berbeda dengan yang sebelumnya. 

“Jika sebelumnya aku hidup sederhana dengan fasilitas seadanya, di sini (Kaltim) aku dilimpahi fasilitas yang tidak tanggung-tanggung, membuatku sekali lagi harus beradaptasi merasakan pola kehidupan yang berbeda,” paparnya. 

Setelah dari Kaltim, Sandra masih harus pindah kerja ke beberapa provinsi lagi, termasuk di Jakarta. Semuanya dengan suasana dan lingkungan kerja yang berbeda. Bagi Sandra, saat ini masih banyak sekali hal yang ingin dia jelajahi dan gali pembelajarannya. 

“Pun, masih banyak cara untuk melakukan itu. Selagi aku bisa, kenapa tidak? Hidup terlalu membosankan bila hanya dilihat dari satu sisi, dunia terlalu luas untuk dibiarkan tidak dijelajahi.”

About the author

Alimah Fauzan adalah Founder Komunitas Perempuan Berkisah, Expert-Conceil di Daya, Riset & Advokasi (DROUPADI Foundation) 2021, Gender Specialist di Institute for Education Development, Social & Cultural Studies (Infest Yogyakarta) 2015-2019, Pegiat Islam & Gender di Fahmina Foundation 2008-2014. Pembelajaran lainnya juga dapat dibaca di alimahfauzan.id; instagram: @alimah.fauzan


Alimah Fauzan

Alimah Fauzan adalah Founder Komunitas Perempuan Berkisah, Expert-Conceil di Daya, Riset & Advokasi (DROUPADI Foundation) 2021, Gender Specialist di Institute for Education Development, Social & Cultural Studies (Infest Yogyakarta) 2015-2019, Pegiat Islam & Gender di Fahmina Foundation 2008-2014. Pembelajaran lainnya juga dapat dibaca di alimahfauzan.id; instagram: @alimah.fauzan

2 Comments

Nurul Isnaeni Putri · March 21, 2020 at 2:54 pm

Sangat menginspirasi kak ? terima kasih banyak sudah mau menuliskan kisah ini.

    admin · March 24, 2020 at 1:03 am

    Hai Nurul, setiap Perempuan pasti memiliki pembelajaran dan kisah inspiratifnya sendiri. Kami tunggu kisahmu 🙂

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us